![]() |
| Lege Potibatingga O Dunia Bi Toguwata Ta Kawasa "Jangan Angkuh dan Sombong di Dunia Karena Hanya Allah SWT Yang Maha Kuasa" |
Padahal sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa penguasa besar sekalipun akhirnya tumbang. Ada yang jatuh karena kesombongan, ada yang kehilangan kepercayaan rakyat, dan ada pula yang harus mengakhiri hidup tanpa membawa sedikit pun jabatan yang dahulu dibanggakan.
Kekuasaan memang bisa membuat seseorang dihormati. Perintahnya dipatuhi, kehadirannya disambut, dan segala keinginannya mudah diwujudkan. Namun semua itu hanyalah sementara. Waktu tidak pernah berpihak selamanya kepada manusia. Hari ini seseorang berada di puncak kekuasaan, besok bisa saja kehilangan semuanya dalam sekejap.
Inilah yang sering dilupakan banyak pemimpin. Jabatan bukanlah mahkota yang kekal, melainkan amanah yang suatu saat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ketika seorang pemimpin menggunakan kekuasaan untuk menindas, menyakiti rakyat kecil, atau berlaku sewenang-wenang, sesungguhnya ia sedang menggali kehancuran bagi dirinya sendiri.
Allah SWT telah menunjukkan dalam banyak kisah bahwa tidak ada manusia yang mampu melawan kehendak-Nya. Fir’aun yang merasa dirinya paling berkuasa akhirnya tenggelam. Qarun yang membanggakan hartanya akhirnya binasa bersama kekayaannya. Semua itu menjadi pelajaran bahwa manusia hanyalah makhluk lemah di hadapan Allah SWT.
Masyarakat Suwawa memiliki sebuah ungkapan bijak yang penuh makna: “Lege Potibatingga o dunia bi toguwata ta kawasa.” Artinya, jangan angkuh dan sombong di dunia karena hanya Allah SWT yang Maha Kuasa. Kalimat sederhana ini mengandung pesan mendalam bahwa manusia tidak boleh membanggakan jabatan, kekayaan, ataupun kekuatan yang dimiliki, sebab semuanya hanyalah titipan sementara.
Sering kali manusia terlalu takut kepada penguasa, padahal penguasa sendiri tidak memiliki kuasa menghadapi kematian. Tidak ada jabatan yang mampu menolak sakit. Tidak ada kekayaan yang bisa membeli umur lebih panjang. Dan tidak ada kekuatan politik yang mampu menghalangi ajal ketika Allah SWT telah menetapkannya.
Karena itu, kesombongan dalam kekuasaan sejatinya hanyalah bentuk kelalaian manusia terhadap hakikat kehidupan. Pemimpin yang baik bukanlah yang ditakuti rakyatnya, melainkan yang mampu menghadirkan keadilan dan ketulusan dalam memimpin. Jabatan seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat, bukan untuk memperkaya diri sendiri atau mencari penghormatan semata.
Masyarakat juga perlu sadar bahwa menghormati pemimpin bukan berarti mengagungkan mereka secara berlebihan. Sebab semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah amal dan ketakwaannya.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Ketika kematian datang, tidak ada lagi kursi kekuasaan, tidak ada lagi pengawal, dan tidak ada lagi sanjungan manusia. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan selama hidup di dunia.
Karena itu, siapa pun yang hari ini diberi jabatan hendaknya belajar untuk rendah hati. Sebab penguasa tidak akan kekal, dan manusia tidak akan pernah punya kuasa menghadapi Allah SWT Yang Maha Kuasa. (Penulis : Risto Gaib)

Posting Komentar untuk "Lege Potibatingga O Dunia Bi Toguwata Ta Kawasa "Jangan Angkuh dan Sombong di Dunia Karena Hanya Allah SWT Yang Maha Kuasa""