PENAS XVII Gorontalo: Membawa Manfaat Nyata atau Sekadar Seremoni?

PENAS XVII Gorontalo membawa dampak ekonomi bagi masyarakat selama acara berlangsung. Namun, apakah manfaatnya akan terus dirasakan setelah kegiatan berakhir atau hanya menjadi seremoni semata? Sebuah opini kritis tentang makna dan dampak nyata PENAS bagi petani dan nelayan Indonesia. (Ilustrasi Gambar : ChatGpt AI)

Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII tahun 2026 menjadikan Gorontalo sebagai pusat perhatian nasional. Ribuan petani dan nelayan dari berbagai daerah berkumpul di Limboto, Kabupaten Gorontalo, untuk mengikuti perhelatan yang selama ini dikenal sebagai wadah bertukar pengalaman, memperkenalkan inovasi, serta memperkuat sektor pertanian dan perikanan Indonesia.

Sebagai agenda yang diselenggarakan oleh Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), PENAS bukan sekadar ajang pertemuan. Kegiatan ini membawa harapan besar agar berbagai gagasan, teknologi, dan kebijakan yang dibahas dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

Di sisi lain, penyelenggaraan PENAS juga menghadirkan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat Gorontalo. Hotel dan penginapan dipenuhi tamu, rumah makan ramai dikunjungi, jasa transportasi meningkat, dan pelaku usaha mikro menikmati lonjakan pendapatan selama berlangsungnya kegiatan. Kehadiran puluhan ribu peserta dari luar daerah menciptakan perputaran ekonomi yang cukup signifikan bagi daerah tuan rumah.

Namun, di balik kemeriahan tersebut muncul satu pertanyaan penting: apakah manfaat itu akan tetap terasa setelah seluruh rangkaian acara berakhir?

Pertanyaan ini layak diajukan karena tidak sedikit kegiatan berskala nasional yang hanya menghasilkan dampak ekonomi sementara. Ketika peserta kembali ke daerah masing-masing dan panggung kegiatan dibongkar, roda perekonomian pun kembali berjalan seperti biasa. Jika tidak ada tindak lanjut yang konkret, manfaat yang dirasakan masyarakat hanya akan menjadi euforia sesaat.

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah perhatian masyarakat terhadap PENAS yang terkadang lebih tertuju pada kehadiran para pejabat dibanding substansi kegiatan itu sendiri. Kedatangan Presiden, menteri, hingga kepala daerah dari berbagai provinsi menjadi magnet yang menyedot perhatian publik. Bahkan beberapa tokoh yang hadir sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial maupun di tengah masyarakat.

Akibatnya, diskusi mengenai inovasi pertanian, pengembangan teknologi, peningkatan produktivitas petani, atau penguatan sektor perikanan sering kali kalah populer dibanding kabar mengenai siapa saja pejabat yang datang dan kegiatan apa yang mereka lakukan selama berada di Gorontalo.

Padahal, ukuran keberhasilan PENAS seharusnya tidak terletak pada megahnya seremoni atau banyaknya tamu kehormatan yang hadir. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana hasil pertemuan tersebut mampu melahirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi petani dan nelayan di lapangan.

Harapan itu menjadi semakin penting di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan. Masyarakat menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kenaikan biaya hidup, meningkatnya biaya usaha, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, hingga berbagai kasus korupsi yang terus menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tentu berharap setiap kegiatan berskala besar mampu menghasilkan manfaat yang nyata dan terukur.

Petani dan nelayan tidak hanya membutuhkan seminar, diskusi, atau pameran teknologi. Mereka membutuhkan akses pasar yang lebih luas, harga hasil produksi yang stabil, kemudahan memperoleh modal usaha, pendampingan teknologi yang berkelanjutan, serta kebijakan yang benar-benar berpihak kepada sektor pangan dan perikanan.

Karena itu, PENAS XVII Gorontalo seharusnya menjadi titik awal lahirnya berbagai program konkret yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Jika setelah kegiatan ini muncul kerja sama baru, investasi sektor pertanian, peningkatan produktivitas, atau kebijakan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, maka PENAS layak disebut sebagai investasi pembangunan yang berhasil.

Sebaliknya, jika yang tersisa hanya dokumentasi kegiatan, pemberitaan media, dan kenangan akan ramainya kunjungan pejabat, maka wajar apabila masyarakat mempertanyakan manfaat sesungguhnya dari perhelatan tersebut.

Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan acara yang hanya ramai selama beberapa hari. Mereka membutuhkan perubahan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. PENAS XVII Gorontalo akan dikenang bukan karena megahnya panggung atau banyaknya tamu yang hadir, melainkan karena dampak nyata yang mampu dirasakan petani dan nelayan setelah acara berakhir.

Sebab kesejahteraan rakyat tidak lahir dari seremoni, melainkan dari kebijakan, kerja nyata, dan keberpihakan yang berkelanjutan kepada mereka yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan bangsa.

Penulis : Jurnalis Kampung

Posting Komentar untuk "PENAS XVII Gorontalo: Membawa Manfaat Nyata atau Sekadar Seremoni?"