Rupiah Melemah Rakyat Semakin tak Berdaya Dalam Sistem Kapitalis

Rupiah Melemah Rakyat Semakin tak Berdaya Dalam Sistem Kapitalis
Penulis : Tyas Ummu Amira
Gonjang-ganjing kondisi ekonomi nasional kembali menjadi perhatian publik seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan laporan bisnis.com, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dengan pergerakan fluktuatif, bahkan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS (4/6/2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar gejolak jangka pendek, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik yang saling berkaitan.

Ketegangan Geopolitik Global dan Dampaknya pada Nilai Rupiah

Salah satu faktor eksternal yang turut memberi tekanan terhadap rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Timur Tengah sebagai pusat energi dunia memiliki peran vital dalam pasokan minyak internasional, sehingga setiap eskalasi konflik akan langsung memengaruhi sentimen pasar.

Iran, yang berada di jalur strategis perdagangan energi global seperti Selat Hormuz, menjadi faktor penting dalam stabilitas harga minyak dunia. Ketika ketegangan meningkat, kekhawatiran akan gangguan distribusi energi mendorong kenaikan harga minyak internasional.

Dampaknya kemudian merambat ke negara berkembang seperti Indonesia yang masih sangat bergantung pada stabilitas harga energi global.

Kebijakan Ekonomi Domestik dan Tantangan yang Dihadapi

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi dalam negeri. Salah satu langkah yang umum dilakukan adalah penyesuaian suku bunga oleh otoritas moneter untuk menahan pelemahan nilai tukar.

Namun demikian, kebijakan tersebut tidak selalu berdampak langsung pada perbaikan kondisi ekonomi masyarakat. Di sisi lain, efektivitas penyaluran bantuan sosial juga masih menjadi perdebatan karena dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran dan belum cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Akibatnya, masyarakat tetap menghadapi tekanan ekonomi, terutama dari kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, listrik, dan bahan bakar.

Dampak Sosial: Tekanan Ekonomi dan Meningkatnya Pinjaman Online

Tekanan ekonomi yang terus berlangsung berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Dalam kondisi tersebut, sebagian masyarakat memilih jalur pembiayaan alternatif melalui pinjaman daring (pinjol).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri pinjaman daring mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 25,52% (year on year). Selain itu, masih terdapat sejumlah penyelenggara pinjol yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum sebesar Rp12,5 miliar (Liputan6.com, 3/5/26).

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya terjadi di tingkat makro, tetapi juga telah menyentuh langsung kondisi rumah tangga masyarakat.

Ketergantungan Dolar dalam Sistem Ekonomi Global

Dalam sistem ekonomi global saat ini, nilai mata uang banyak ditentukan oleh tingkat kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat sebagai mata uang acuan internasional.

Dominasi sistem ekonomi berbasis pasar bebas dan instrumen berbunga sering dikritik karena dianggap dapat menciptakan ketidakstabilan, spekulasi, serta ketimpangan distribusi kekayaan antarnegara.

Dalam kondisi ini, negara berkembang kerap berada pada posisi yang rentan terhadap gejolak eksternal yang berasal dari sistem ekonomi global.

Pandangan Sistem Ekonomi Kapitalisme dan Islam

Dalam sistem kapitalisme modern, uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga sering diperlakukan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di pasar keuangan. Hal ini membuka ruang bagi spekulasi dan ketergantungan pada instrumen non-riil yang berisiko terhadap stabilitas nilai mata uang.

Sebaliknya, dalam perspektif ekonomi Islam, uang diposisikan murni sebagai alat tukar dan bukan komoditas spekulatif. Aktivitas ekonomi harus bersandar pada prinsip syariah yang menekankan keadilan dan stabilitas.

Dalam literatur ekonomi Islam disebutkan bahwa penggunaan emas dan perak (dinar dan dirham) pernah menjadi standar moneter yang relatif stabil dalam sejarah sistem keuangan.

Selain itu, Islam juga menekankan larangan terhadap praktik riba dan penimbunan harta, sebagaimana firman Allah SWT:

“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Dan firman-Nya tentang larangan menimbun emas dan perak:

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka azab yang pedih.”

Dalam konsep kepemimpinan Islam, pemimpin dipandang sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Penutup

Pelemahan rupiah menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis semata, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika global, kebijakan domestik, serta struktur sistem ekonomi yang lebih luas.

Dampaknya tidak hanya tercermin pada angka nilai tukar, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya beban hidup dan tekanan ekonomi rumah tangga.

Posting Komentar untuk "Rupiah Melemah Rakyat Semakin tak Berdaya Dalam Sistem Kapitalis"